🩵Ramadhan hampir berlalu, meninggalkan jejak mendalam di hati setiap mukmin. Bulan penuh rahmat ini telah mengajarkan kita kesabaran, ketulusan, dan kecintaan pada ibadah. Hari-hari yang diisi dengan tilawah, sujud panjang, dan doa kini mendekati akhir.
🩵Namun, timbul pertanyaan: Apakah kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan berikutnya? Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, "Bagaimana bisa seorang mukmin tidak meneteskan air mata saat berpisah dengan Ramadhan, sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi?"
🩵Kesedihan ini bukan sekadar perpisahan, tetapi juga kekhawatiran—apakah amal kita diterima? Apakah kita mampu menjaga ketakwaan setelahnya?
🩵Ramadhan bukan akhir, melainkan awal perjalanan menuju istiqamah. Jika kita bisa dekat dengan Allah di bulan ini, mengapa tidak seterusnya?
🩵Mari kita jadikan perpisahan ini sebagai momentum untuk berjanji kepada diri sendiri—bahwa ketakwaan yang telah kita bangun tidak akan luntur begitu saja. Semoga Allah mengizinkan kita untuk bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang dalam keadaan iman yang lebih kuat dan hati yang lebih dekat dengan-Nya.
0 komentar:
Posting Komentar